Mojokerto – Di tengah hiruk pikuk Kota Mojokerto, terbaring jasad seorang pahlawan nasional yang mungkin namanya tak sepopuler pahlawan lainnya di kalangan warga setempat: Raden Pandji Soeroso. Lahir di Sidoarjo pada 3 November 1893 dan wafat pada 16 Mei 1981, Soeroso dimakamkan di Makam Pekuncen, Surodinawan, Kota Mojokerto. Namun, ironisnya, banyak warga Mojokerto yang tak menyadari keberadaan makam seorang tokoh penting yang pernah menjabat sebagai Wakil Walikota Mojokerto (1919-1924) ini.
Jejak Perjuangan yang Multidimensional
Raden Pandji Soeroso adalah sosok yang aktif dalam berbagai bidang. Ia memulai perjuangannya di Serikat Islam sejak usia muda, kemudian terjun ke dunia politik sebagai anggota Volksraad (Dewan Rakyat Hindia Belanda). Di era pendudukan Jepang, ia memegang peranan penting di PUTERA Malang dan menjadi bagian dari BPUPKI serta PPKI yang mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.
Setelah kemerdekaan, Soeroso menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah pertama dan menduduki berbagai posisi menteri, termasuk Menteri Perburuhan, Menteri Sosial, Menteri Pekerjaan Umum, dan Menteri Dalam Negeri. Kontribusinya dalam bidang koperasi juga tak bisa diabaikan, hingga ia dijuluki sebagai “Bapak Koperasi Pegawai Negeri RI”.
Makam yang Sunyi
Meskipun memiliki jasa yang besar bagi bangsa dan negara, makam Raden Pandji Soeroso di Mojokerto tampak sederhana dan kurang mendapat perhatian. Beberapa peziarah yang datang pun umumnya adalah mereka yang memiliki kepentingan khusus atau keturunan dari tokoh tersebut.
“Saya baru tahu kalau ada makam pahlawan nasional di sini. Selama ini saya hanya lewat saja,” ujar seorang warga Mojokerto yang enggan disebutkan namanya.
Momentum untuk Mengenang
Kisah Raden Pandji Soeroso adalah pengingat bagi kita semua tentang pentingnya menghargai dan mengenang jasa para pahlawan. Sosoknya yang multidimensional dan kontribusinya yang nyata bagi Indonesia patut dijadikan inspirasi bagi generasi muda Mojokerto.
Sudah saatnya masyarakat Mojokerto lebih mengenal dan menghargai Raden Pandji Soeroso sebagai bagian dari sejarah kota mereka. Mungkin dengan mengadakan kegiatan napak tilas, seminar, atau sekadar membersihkan dan merawat makamnya, kita bisa memberikan penghormatan yang layak bagi pahlawan yang terlupakan ini.


















