MOJOKERTO – Rencana kunjungan atau studi wisata ke Pulau Bali yang digelar oleh Paguyuban Kepala Desa (PKD) Kabupaten Mojokerto pada 15–18 Juli 2026 menuai sorotan tajam. Ketua LP3-NKRI Kabupaten Mojokerto, Sumidi S.Sos., menilai kegiatan ini tidak tepat waktu dan menunjukkan kurangnya kepekaan para pemimpin desa.
“Di saat yang sama, banyak warga—terutama para orang tua murid—justru harus berhutang sana-sini demi menutupi biaya masuk sekolah dan harga seragam yang mencekik leher. Warganya sedang kesulitan, tapi para Kepala Desa malah bersenang-senang ke Bali selama tiga hari penuh,” tegas Sumidi, Rabu (15/7/2026).
Ia menegaskan, hal ini membuktikan para kepala desa tersebut tidak memiliki empati pada kesulitan rakyat yang dipimpinnya, serta tidak memiliki sense of crisis atau rasa krisis yang nyata.
Sumidi menambahkan, seharusnya di masa awal tahun ajaran baru ini, perhatian dan kehadiran para kepala desa justru dibutuhkan di tengah masyarakat, membantu memantau pelayanan pendidikan, serta menindaklanjuti keluhan soal biaya seragam yang melambung tinggi hingga mencapai tiga kali lipat harga pasaran.
“Pemimpin desa seharusnya merasakan apa yang dirasakan warganya. Jangan sampai saat rakyat susah, pemimpinnya malah asyik berlibur di tempat jauh. Ini sangat menyayat hati dan tidak mencerminkan kepedulian,” pungkasnya. (ri)











Komentar