Miris, Kondisi UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Ngoro, Memprihatinkan: Atap 75% Rusak Parah, Aktivis Desak Tindakan Cepat

Uncategorized66 Dilihat

MOJOKERTO — Hasil investigasi tim media ke lokasi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Dinas Pendidikan Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, menemukan kondisi bangunan yang sangat memprihatinkan. Sebagian besar atap gedung diketahui sekitar 75 persen rusak parah, dengan kerusakan juga merambah ke ruang guru, ruang arsip, dapur, hingga kamar mandi yang kondisinya sangat tidak layak.

Berdasarkan rekaman video yang diambil pada Selasa (18/8/2026), terlihat jelas atap yang berlubang besar, dinding retak, serta ruang arsip yang berisiko tinggi terkena air hujan dan panas matahari langsung. Kondisi ruang guru, dapur, dan kamar mandi juga dinilai tidak memadai untuk kegiatan pelayanan maupun administrasi pendidikan.

Saat dikonfirmasi, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mojokerto, Amsar Azhari Siregar, menjelaskan bahwa saat ini prioritas penanganan kerusakan difokuskan pada sekolah-sekolah yang mengalami kerusakan berat. Bangunan UPT tersebut juga tercatat sebagai milik SD Jasem.

“Fokus kita sementara ini untuk sekolah dengan rusak berat. Gedung yang dimaksud juga milik SD Jasem. Dikarenakan keterbatasan anggaran, nanti kita masukkan usulan. Mudah-mudahan ada tambahan anggaran di Perubahan APBD,” ungkap Amsar.

Kondisi ini mendapat sorotan tajam dari para aktivis pendidikan yang tergabung dalam Komunitas Penegak Keadilan. Mereka sangat menyayangkan kondisi tersebut dan mendesak pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah konkret.

“Apakah kita harus menunggu ada korban baru baru diperbaiki? Seharusnya pengambil kebijakan — Bupati, Kepala Dinas, dan instansi terkait — segera mengambil tindakan cepat. Kami akan terus memperjuangkan ini sampai ada tindakan nyata,” tegas perwakilan komunitas tersebut.

Mereka juga menegaskan bahwa kenyataan di lapangan tersebut tidak mencerminkan visi dan misi Bupati Gus Barra di bidang pendidikan. Bupati diminta untuk turun langsung memantau kondisi tersebut, jangan hanya “asal bapak senang”.

“Janji politik Bupati menyebut masa depan Kabupaten Mojokerto tidak bisa dilepaskan dari dunia pendidikan dan peran para guru. Ketika kita berbicara masa depan Mojokerto, kita sedang berbicara pendidikan. Ketika berbicara pendidikan, pada hakikatnya kita berbicara tentang para guru. Bagaimana mungkin kita mengharapkan kualitas pendidikan yang baik jika sarana dan prasarana tempat mereka bekerja saja dalam kondisi sangat memprihatinkan?” pungkas mereka. (Tim Media)

Komentar